Sejarah Letusan Gunung Terbesar Di Dunia

Sejarah Letusan Gunung Terbesar Di Dunia

Laphenomenologierichirienne –¬†Aktifitas vulkanik yang aktif memang merupakan hal yang sangat berbahaya. Pasalnya, letusan tersebut dapat menimbulkan berbagai hal, seperti abu vulkanik, lahar, awan panas, gas beracun, bahkan tsunami.

Sejarah mencatat banyak letusan gunung berapi yang memiliki dampak merusak yang tinggi bahkan di empat penjuru bumi.

Ada beberapa letusan gunung berapi terbesar di dunia sepanjang sejarah yang bahkan memiliki efek yang jauh lebih besar dari bom atom atau ledakan Tsar Bomba yang merupakan ledakan nuklir terbesar yang pernah dibuat oleh manusia.

1. Gunung Tambora, Indonesia (1851)

Letusan gunung paling dahsyat di dunia nomor 1 yaitu letusan Gunung Tambora. Menurut laporan data dari Oregon State University, letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB, tercatat paling mematikan.

Selain letusan dahsyat, peristiwa ini juga menewaskan lebih dari ratusan ribu orang, juga dinilai pada skala 7 VEI (Volcano Explosivity Index). Skala ini setara dengan 6 kali lebih kuat dari letusan Gunung Krakatau, bahkan suara ledakannya terdengar hingga ke Maluku, Batavia, Makassar, dan Sumatera Selatan.

Selain itu, efek buruknya juga menyebar ke seluruh Amerika Utara dan Eropa, menyebabkan musim dingin yang lebih panjang dan kondisi cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

2. Gunung Thera, Yunani

Meskipun tidak ada catatan tertulis tentang letusan Gunung Thera, beberapa ahli geologi setuju bahwa itu adalah peristiwa ledakan paling masif dalam sejarah dunia yang dapat menyebabkan tenggelamnya kota legendaris Atlantis.

Meski waktu pasti letusannya tidak diketahui, Gunung Thera terletak di pulau Santorini, yang merupakan bagian dari kepulauan vulkanik di Laut Aegea.

kedua.

Saking besarnya, peradaban Minoan kuno yang berada di wilayah Mediterania hancur karena dilanda bencana vulkanik. Amukan Thera menghancurkan semua peradaban di pulau terdekat Kreta dengan tsunami yang mencapai 150 kaki. Penurunan suhu udara juga disebabkan sebagian besar belerang dioksida yang dimuntahkan dari gunung, yang mempengaruhi cuaca.

3. Gunung Krakatau, Indonesia (1883)

Hampir 70 tahun setelah meletusnya Gunung Tambora, salah satu gunung berapi di Indonesia (Hindia Belanda kala itu) kembali mengejutkan dunia dengan meletusnya Gunung Krakatau.

Puncak letusan terjadi pada 26-27 April. Gunung Krakatau terletak di sepanjang busur pulau vulkanik di zona subduksi lempeng Indo-Australia. Seperti letusan gunung berapi pada umumnya, letusan Gunung Krakatau diawali dengan munculnya asap dan gempa kecil.

Lalu terjadilah ledakan sangat keras yang terdengar hingga jarak 2.800 mil di Australia. Letusan Gunung Krakatau mengirim awan puing sejauh 15 mil ke udara. Ruang magma pecah, menyebabkan air laut bersentuhan dengan lahar panas.

Itu juga menyebabkan semburan uap panas yang berlebihan dan melaju dengan kecepatan lebih dari 60 mil per jam. Puing-puing dan awan abu menggelapkan langit selama tiga hari.

Tak hanya itu, terjadi pula tsunami dengan ketinggian hingga 40 meter yang menghanyutkan pesisir Lampung dan Banten. Letusan Krakatau menewaskan lebih dari 36.000 orang dan menjadikannya salah satu letusan gunung berapi terkuat di dunia dalam sejarah.

Selain itu, letusan Gunung Krakatau juga berdampak pada iklim seluruh bumi, yakni kondisi cuaca global yang tidak kembali normal selama lima tahun.

4. Gunung Pelee, Karibia (1902)

Letusan gunung berapi purba terdahsyat di dunia berikutnya datang dari pulau Karibia Martinik, tepatnya dari Gunung Pelee yang menghancurkan kota Saint-Pierre dan penduduknya dengan total sekitar 30.000 jiwa.

Meski gunung ini sebelumnya dinyatakan tidak aktif, namun masih menunjukkan aktivitas seismik. Namun, pada April 1902, gunung ini menunjukkan tanda-tanda, antara lain keluarnya aktivitas alam seperti pelepasan zat belerang akibat gempa bumi.

Sayangnya, sinyal alam ini diabaikan hingga pada puncaknya pada pagi hari tanggal 8 Mei gunung ini meletus dahsyat dan dianggap paling mematikan.

Sumber:

Berita Riau